
Jakarta – Pisang sering menjadi pilihan camilan karena praktis, mengenyangkan, dan mengandung berbagai nutrisi. Namun, rasa manis pada buah ini membuat sebagian orang bertanya-tanya apakah pisang dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat.
Terutama bagi orang yang perlu menjaga gula darah, jenis pisang, tingkat kematangan, hingga cara mengonsumsinya menjadi hal yang patut diperhatikan.
Dikutip dari Eating Well, efek pisang terhadap gula darah tidak selalu sama pada setiap orang. Respons tersebut dapat dipengaruhi oleh ukuran porsi, kandungan serat, tingkat kematangan, serta indeks dan beban glikemik makanan.
Pisang Tidak Sama dengan Makanan Manis Olahan
Pisang termasuk buah dengan indeks glikemik sedang. Artinya, karbohidrat di dalamnya tidak meningkatkan gula darah secepat sejumlah makanan atau minuman yang mengandung gula sederhana dalam jumlah tinggi.
Selain itu, pisang memiliki serat yang membantu memperlambat proses pencernaan dan penyerapan karbohidrat. Karena itu, rasa manis pada pisang tidak bisa disamakan begitu saja dengan makanan manis rendah serat.
Meski begitu, jumlah yang dikonsumsi tetap berpengaruh. Semakin besar porsinya, semakin banyak pula karbohidrat yang masuk ke tubuh.
Tingkat Kematangan Ikut Berpengaruh
Warna dan tekstur pisang ternyata dapat memberikan gambaran mengenai perubahan kandungan karbohidratnya.
Pisang yang masih hijau atau belum terlalu matang memiliki lebih banyak pati resisten. Jenis pati ini tidak langsung dicerna dan diserap seperti gula sederhana sehingga proses pelepasan karbohidrat ke dalam darah dapat berlangsung lebih lambat.
Sementara itu, ketika pisang semakin matang, sebagian pati akan berubah menjadi gula yang lebih sederhana. Kondisi tersebut membuat pisang matang terasa lebih manis dan karbohidratnya lebih mudah dicerna.
Ahli gizi Kimberley Rose-Francis, RD, LD, CDCES, menjelaskan bahwa selama proses pematangan, karbohidrat dalam pisang berubah menjadi gula sederhana, termasuk glukosa.
Karena itu, orang yang sedang memperhatikan kadar gula darah dapat mempertimbangkan pisang yang sudah matang tetapi belum terlalu lembek atau terlalu manis.
Serat Membantu Menahan Kenaikan Gula Darah
Selain pati resisten, kandungan serat dalam pisang juga berperan dalam respons gula darah. Serat dapat memperlambat pengosongan lambung serta proses penyerapan karbohidrat.
Hal ini menjadi salah satu alasan buah utuh seperti pisang umumnya menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan makanan manis yang hanya menyediakan gula dan minim serat.
Namun, kandungan serat dalam satu buah pisang tetap tidak berarti gula darah tidak akan meningkat sama sekali. Kenaikan kadar gula darah merupakan respons normal setelah mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat.
Cara Makan Pisang Bisa Diperhatikan
Bagi orang yang ingin menjaga gula darah tetap lebih stabil, pisang dapat dikombinasikan dengan sumber protein, lemak sehat, atau makanan tinggi serat.
Misalnya, pisang bisa disantap bersama yogurt tanpa tambahan gula atau sedikit selai kacang. Kombinasi tersebut dapat membuat makanan lebih seimbang sekaligus membantu memperlambat proses pencernaan.
Ukuran porsi juga penting. Pisang berukuran kecil atau sedang dapat menjadi pilihan jika asupan karbohidrat sedang dibatasi.
Jadi, Apakah Pisang Harus Dihindari?
Tidak. Pisang tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Yang perlu diperhatikan adalah ukuran porsinya, tingkat kematangan, serta makanan lain yang dikonsumsi bersamaan.
Jika ingin memperoleh lebih banyak pati resisten, pisang yang masih agak hijau dapat menjadi pilihan. Sementara itu, pisang matang tetap boleh dikonsumsi dalam jumlah sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, pengaruh pisang terhadap gula darah tidak hanya ditentukan oleh rasa manisnya. Jenis pisang, tingkat kematangan, porsi, kandungan serat, dan kondisi tubuh masing-masing ikut menentukan respons setelah mengonsumsinya.
