
Jakarta – Selama ini rokok dikenal sebagai salah satu faktor terbesar penyebab berbagai penyakit serius. Namun, seorang dokter spesialis penyakit infeksi asal Inggris justru menilai ada jenis makanan yang dampaknya terhadap kesehatan bisa lebih mengkhawatirkan.
Dalam podcast Diary of a CEO, Dr. Chris van Tulleken mengatakan bahwa makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF) kini menjadi salah satu penyumbang terbesar meningkatnya risiko penyakit kronis hingga kematian dini.
Dikutip dari Mirror UK, Chris menjelaskan bahwa masyarakat selama ini lebih akrab dengan istilah junk food atau makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Menurutnya, istilah tersebut kurang memiliki batasan yang jelas untuk menggambarkan jenis makanan yang paling berisiko.
Konsep makanan ultra-proses sendiri mulai diperkenalkan sekitar 2009-2010 oleh para peneliti di Brasil. Kategori ini merujuk pada makanan yang diproduksi melalui proses industri dalam banyak tahapan, menggunakan sedikit bahan pangan utuh, serta ditambahkan berbagai zat seperti pengawet, pewarna, pemanis, maupun bahan tambahan lainnya.
Contoh makanan yang termasuk UPF antara lain mi instan, nugget dan sosis, minuman kemasan manis atau bersoda, keripik, roti produksi massal, sereal tinggi gula, hingga makanan siap saji.
Chris menilai meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses sejalan dengan melonjaknya kasus penyakit tidak menular di berbagai belahan dunia. Bahkan, menurutnya, pola makan yang didominasi UPF kini menjadi ancaman kesehatan yang sangat besar.
Ia menyebut pola makan tidak sehat, khususnya yang kaya makanan ultra-proses, telah melampaui kebiasaan merokok sebagai salah satu faktor utama yang berkaitan dengan kematian dini di tingkat global.
Kondisi tersebut, lanjut Chris, tidak hanya terlihat di negara-negara maju. Negara berkembang maupun masyarakat berpenghasilan rendah juga mengalami dampak serupa.
Sebagai contoh, ia menyoroti Meksiko, Kolombia, dan Brasil. Negara-negara tersebut pernah memiliki angka obesitas yang relatif rendah. Namun, setelah makanan olahan industri semakin mudah diakses, prevalensi obesitas meningkat drastis dalam kurun waktu sekitar satu dekade.
Chris mengatakan bahwa perubahan tersebut juga diikuti peningkatan kasus diabetes tipe 2 hingga komplikasi serius, termasuk amputasi akibat penyakit tersebut.
Selain itu, ia menilai makanan ultra-proses memiliki sifat yang membuat sebagian orang sulit berhenti mengonsumsinya. Menurutnya, efek ketergantungan makanan jenis ini pada beberapa individu dapat menyerupai tembakau, alkohol, bahkan narkoba.
Sejumlah penelitian juga mengaitkan konsumsi UPF dalam jumlah tinggi dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, gangguan kesehatan mental, penyakit kronis lainnya, hingga kematian akibat gangguan kardiovaskular.
Meski demikian, Chris mengingatkan bahwa perubahan pola makan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Ia menilai pendekatan yang menghakimi atau memaksa seseorang berhenti mengonsumsi makanan tertentu justru dapat memicu efek sebaliknya.
Sebagai langkah awal, ia menyarankan masyarakat mulai memperbanyak konsumsi makanan minim proses, seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan gandum utuh, sebagai bagian dari pola makan yang lebih sehat.
